Mendeteksi lokasi anda...

Al-Quran & Tafsir Ringkas Kemenag

About Us

Tentang USTADZMU.MY.ID

USTADZMU.MY.ID adalah website pribadi yang dikelola langsung oleh Abu Farhan Fahrudin. Website dalam taraf pengembangan. Awal mula berisi postingan berbagai macam jenis tulisan dan asal posting saja. Semoga ke depannya semakin tertata, bermanfaat untuk menyimpan file-file kajian yang saya sampaikan dan berbagai file yang menurut kami bermanfaat (kami butuhkan). Selain bermanfaat untuk diri sendiri, semoga apa yang kami sajikan juga bermanfaat untuk siapa saja yang sedang membaca website ini di mana saja dan kapan saja.

Ada soal jawab menarik dari situs islamweb (اسلام ويب) berikut ini.

السؤال:
هَلْ هُنَاكَ حَدِيثٌ نَبَوِيٌّ شَرِيفٌ بِمَعْنَى أَنَّ الحِكْمَةَ ضَالَّةُ المُؤْمِنِ أَنَّى وَجَدَهَا فَهُوَ أَحَقُّ النَّاسِ بِهَا؟ وَمَا صِحَّتُهُ إِنْ وُجِدَ؟ وَجَزَاكُمُ اللهُ خَيْرًا.

"Apakah ada hadis Nabawi mulia yang maknanya bahwa hikmah adalah barang  hilang milik orang mukmin, di mana pun ia menemukannya maka ia adalah orang yang paling berhak atasnya? Dan bagaimana derajat kesahihannya jika hadis itu memang ada? Semoga Allah membalas kebaikan Anda."

الإِجَابَةُ:

الحَمْدُ للهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، أَمَّا بَعْدُ:

فَهَذَا الحَدِيثُ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ ـ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ـ وَلَفْظُهُ: «الكَلِمَةُ الحِكْمَةُ ضَالَّةُ المُؤْمِنِ فَحَيْثُ وَجَدَهَا فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا».

قَالَ التِّرْمِذِيُّ: هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الوَجْهِ، وَإِبْرَاهِيمُ بْنُ الفَضْلِ المَخْزُومِيُّ يُضَعَّفُ فِي الحَدِيثِ مِنْ قِبَلِ حِفْظِهِ ـ وَحَكَمَ الأَلْبَانِيُّ عَلَى الحَدِيثِ بِأَنَّهُ ضَعِيفٌ جِدًّا.

وَرَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ فِي الضُّعَفَاءِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَلَفْظُهُ: «الكَلِمَةُ الحِكْمَةُ ضَالَّةُ المُؤْمِنِ حَيْثُ وَجَدَهَا جَذَبَهَا».

وَهَذَا الحَدِيثُ وَإِنْ لَمْ يَثْبُتْ مَرْفُوعًا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ مَعْنَاهُ صَحِيحٌ، وَذَلِكَ أَنَّ المُؤْمِنَ لَا يَزَالُ طَالِبًا لِلْحَقِّ حَرِيصًا عَلَيْهِ، وَلَا يَمْنَعُهُ مِنَ الأَخْذِ بِهِ حَيْثُ لَاحَ وَجْهُهُ شَيْءٌ، فَكُلُّ مَنْ قَالَ بِالصَّوَابِ أَوْ تَكَلَّمَ بِالحَقِّ قُبِلَ قَوْلُهُ وَإِنْ كَانَ بَعِيدًا بَغِيضًا، وَقَدْ قَالَ تَعَالَى: {وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا} [المائدة: 8].

فَلَيْسَ بُغْضُ المُؤْمِنِ شَخْصًا مَا بِحَامِلِهِ عَلَى رَدِّ مَا جَاءَ بِهِ مِنَ الحِكْمَةِ وَالخَيْرِ، بَلْ هُوَ يَأْخُذُ الحِكْمَةَ مِنْ أَيِّ وِعَاءٍ خَرَجَتْ وَعَلَى أَيِّ لِسَانٍ ظَهَرَتْ عَلَى حَدِّ قَوْلِ القَائِلِ:

لَا تَحْقِرَنَّ الرَّأْيَ وَهُوَ مُوَافِقٌ ... حُكْمَ الصَّوَابِ إِذَا أَتَى مِنْ نَاقِصِ
فَالدُّرُّ وَهُوَ أَعَزُّ شَيْءٍ يُقْتَنَى ... مَا حَطَّ قِيمَتَهُ هَوَانُ الغَائِصِ

وَاللهُ أَعْلَمُ.

Jawaban:

Segala puji bagi Allah, selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba'du:

Hadis ini diriwayatkan oleh al-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dengan redaksi: 
"Kalimat hikmah adalah barang hilang milik orang mukmin. Di mana pun ia menemukannya, maka ia paling berhak atasnya."

Al-Tirmidzi berkata: "Ini adalah hadis *gharib* (asing), kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur ini. Ibrahim bin al-Fadl al-Makhzumi dilemahkan dalam periwayatan hadis dari sisi hafalannya." Sementara itu, Syaikh al-Albani menghukumi hadis ini sebagai hadis yang sangat lemah (dha’if jiddan).

Ibnu Hibban juga meriwayatkannya dalam kitab al-Dhu’afa’ dari Abu Hurairah dengan redaksi: 
"Kalimat hikmah adalah barang hilang milik orang mukmin, di mana pun ia menemukannya, ia akan mengambilnya."

Meskipun hadis ini tidak terbukti sahih secara marfu’ (sampai sanadnya) kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, namun maknanya benar. Hal itu karena seorang mukmin akan senantiasa mencari kebenaran dan antusias terhadapnya. Tidak ada satu pun yang dapat menghalanginya untuk mengambil kebenaran tersebut ketika nampak jelas baginya. Siapa pun yang mengucapkan kebenaran atau berbicara dengan tepat, maka perkataannya diterima, meskipun orang tersebut adalah orang yang jauh (asing) atau orang yang dibenci. Allah Ta'ala telah berfirman: 

"Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil." (QS. Al-Ma'idah: 8).

Maka, kebencian seorang mukmin terhadap seseorang tidak seharusnya membuatnya menolak hikmah dan kebaikan yang dibawa orang tersebut. Sebaliknya, ia mengambil hikmah dari wadah mana pun ia keluar dan dari lisan mana pun ia muncul, sebagaimana perkataan seorang penyair:

"Janganlah sekali-kali engkau meremehkan sebuah pendapat yang sesuai... dengan ketetapan yang benar, meskipun datang dari orang yang memiliki kekurangan."

"Sebab mutiara, yang merupakan benda paling berharga untuk dimiliki... nilainya tidak akan turun hanya karena rendahnya (status) sang penyelam."

Wallahu a’lam (Dan Allah lebih mengetahui).

USTADZMU.MY.ID


📁 ARTIKEL