Makna Do'a Rasulullah ﷺ: 'Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin ...
السُّؤَالُ:
أَسْتَفْسِرُ عَنْ مَعْنَى دُعَاءِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا، وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا، وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ"، فَهَلْ هَذَا يَعْنِي الْمَسْكَنَةَ لِلهِ وَالذُّلَّ لَهُ، أَمْ أَنَّ مَعْنَى الْمَسْكَنَةِ هُوَ الْفَقْرُ الَّذِي هُوَ ضِدُّ الْغِنَى وَمَا يَشْتَمِلُ عَلَيْهِ الْمَعْنَى مِنْ ضِيقِ الْحَالِ وَشَظَفِ الْعَيْشِ؟
الْإِجَابَةُ:
الْحَمْدُ لِلهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، أَمَّا بَعْدُ:
فَقَدْ جَاءَ فِي تُحْفَةِ الْأَحْوَذِيِّ قَوْلُهُ: (اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا) قِيلَ هُوَ مِنَ الْمَسْكَنَةِ وَهِيَ الذِّلَّةُ وَالِافْتِقَارُ، فَأَرَادَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِذَلِكَ إِظْهَارَ تَوَاضُعِهِ وَافْتِقَارِهِ إِلَى رَبِّهِ إِرْشَادًا لِأُمَّتِهِ إِلَى اسْتِشْعَارِ التَّوَاضُعِ وَالِاحْتِرَازِ عَنِ الْكِبْرِ وَالنَّخْوَةِ، وَأَرَادَ بِذَلِكَ التَّنْبِيهَ عَلَى عُلُوِّ دَرَجَاتِ الْمَسَاكِينِ وَقُرْبِهِمْ مِنَ اللهِ تَعَالَى، قَالَهُ الطِّيبِيُّ رَحِمَهُ اللهُ. (وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ) أَيِ اجْمَعْنِي فِي جَمَاعَتِهِمْ بِمَعْنَى اجْعَلْنِي مِنْهُمْ، لَكِنْ لَمْ يَسْأَلْ مَسْكَنَةً تَرْجِعُ لِلْقِلَّةِ؛ بَلْ لِلْإِخْبَاتِ وَالتَّوَاضُعِ وَالْخُشُوعِ. اهـ
Pertanyaan:
"Saya ingin bertanya mengenai makna doa Rasulullah ﷺ: 'Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku di dalam golongan orang-orang miskin.' Apakah ini berarti sifat rendah hati (maskanah) di hadapan Allah dan ketundukan kepada-Nya, ataukah makna miskin di sini adalah kefakiran yang merupakan lawan dari kekayaan, serta mencakup makna kesempitan hidup dan penderitaan ekonomi?"
Jawaban:
"Segala puji bagi Allah, selawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba'd:
"Telah disebutkan dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi mengenai sabda beliau: (Ya Allah hidupkanlah aku dalam keadaan miskin), dikatakan bahwa maknanya berasal dari kata al-maskanah, yaitu ketundukan dan perasaan butuh (kepada Allah).
Maka maksud Rasulullah ﷺ dengan doa tersebut adalah untuk menunjukkan kerendahan hati (tawadu) dan perasaan fakir (sangat butuh) di hadapan Tuhannya, sekaligus sebagai petunjuk bagi umatnya agar senantiasa merasakan ketawaduan serta waspada terhadap sifat sombong dan angkuh. Selain itu, beliau bermaksud memberikan peringatan akan tingginya derajat orang-orang miskin serta kedekatan mereka di sisi Allah Ta'ala. Demikian sebagaimana dikatakan oleh Imam Ath-Thibi rahimahullah.
(Dan kumpulkanlah aku di dalam golongan orang-orang miskin), maknanya adalah: kumpulkanlah aku dalam kelompok mereka, dalam arti jadikanlah aku bagian dari mereka. Namun, beliau tidak meminta kemiskinan yang merujuk pada kekurangan harta benda (kemelaratan); melainkan meminta sifat Al-Ikhbat (ketundukan hati), ketawaduan, dan kekhusyukan."
وَقَدْ يَظُنُّ الْبَعْضُ أَنَّهُ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَقْصِدُ بِدُعَائِهِ الْمَسْكَنَةَ الَّتِي هِيَ بِمَعْنَى الْفَقْرِ، وَقَدْ يُسْتَدَلُّ لِذَلِكَ بِمَا زَادَهُ التِّرْمِذِيُّ مِنْ قَوْلِ عَائِشَةَ: لِمَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: إِنَّهُمْ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ قَبْلَ أَغْنِيَائِهِمْ بِأَرْبَعِينَ خَرِيفًا. وَبِمَا أَخْرَجَهُ الْإِمَامُ مُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ: قَالَ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ: وَجَاءَ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ إِلَى عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ وَأَنَا عِنْدَهُ فَقَالُوا: يَا أَبَا مُحَمَّدٍ؛ إِنَّا وَاللهِ مَا نَقْدِرُ عَلَى شَيْءٍ لَا نَفَقَةَ وَلَا دَابَّةَ وَلَا مَتَاعَ. فَقَالَ لَهُمْ: مَا شِئْتُمْ، إِنْ شِئْتُمْ رَجَعْتُمْ إِلَيْنَا فَأَعْطَيْنَاكُمْ مَا يَسَّرَ اللهُ لَكُمْ، وَإِنْ شِئْتُمْ ذَكَرْنَا أَمْرَكُمْ لِلسُّلْطَانِ، وَإِنْ شِئْتُمْ صَبَرْتُمْ، فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَقُولُ إِنَّ فُقَرَاءَ الْمُهَاجِرِينَ يَسْبِقُونَ الْأَغْنِيَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى الْجَنَّةِ بِأَرْبَعِينَ خَرِيفًا. قَالُوا: فَإِنَّا نَصْبِرُ لَا نَسْأَلُ شَيْئًا.
"Sebagian orang mungkin menyangka bahwa beliau ﷺ bermaksud dengan doanya tersebut adalah Al-Maskanah yang berarti kefakiran (miskin harta). Hal ini terkadang didasarkan pada tambahan riwayat At-Tirmidzi dari perkataan Aisyah (ketika bertanya): 'Mengapa wahai Rasulullah?' Beliau menjawab: 'Sesungguhnya mereka (orang miskin) masuk surga mendahului orang-orang kaya di antara mereka selama empat puluh musim gugur (tahun).'
Juga berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Sahihnya: Abu Abdurrahman berkata: Ada tiga orang laki-laki mendatangi Abdullah bin Amru bin al-Ash ketika aku sedang bersamanya. Mereka berkata: 'Wahai Abu Muhammad, demi Allah kami tidak memiliki kemampuan atas apa pun; tidak ada nafkah, tidak ada hewan tunggangan, dan tidak pula harta benda.'
Maka Abdullah berkata kepada mereka: 'Terserah kalian; jika kalian mau, kalian bisa kembali kepada kami lalu kami akan memberikan apa yang Allah mudahkan bagi kalian. Jika kalian mau, kami akan sampaikan urusan kalian kepada penguasa. Dan jika kalian mau, kalian bisa bersabar, karena sesungguhnya aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya orang-orang fakir dari kaum Muhajirin akan mendahului orang-orang kaya pada hari kiamat menuju surga selama empat puluh musim gugur.' Mereka pun berkata: 'Kalau begitu kami akan bersabar dan tidak meminta sesuatu pun.'"
إِلَّا أَنَّ هَذَا يُعَارِضُهُ مَا أَخْرَجَهُ النَّسَائِيُّ وَغَيْرُهُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ: "اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْقِلَّةِ وَالذِّلَّةِ..." الْحَدِيثَ. وَيُعَارِضُهُ مَا أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ مِنْ قَوْلِهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- فِي دُعَائِهِ: "اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ."
"Namun, pandangan tersebut (bahwa miskin berarti kekurangan harta) bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh An-Nasa'i dan lainnya dari Abu Hurairah: Bahwa Rasulullah ﷺ pernah berdoa: 'Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran, aku berlindung kepada-Mu dari kekurangan dan kehinaan...' (hingga akhir hadis). Hal ini juga bertentangan dengan riwayat Muslim mengenai doa beliau ﷺ: '...Lunasilah utang-utang kami, dan cukupkanlah (kayakanlah) kami dari kefakiran.'
وَعَلَيْهِ، فَالْمَسْكَنَةُ فِي دُعَائِهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- إِنَّمَا تَعْنِي -كَمَا قَالَ الْمُبَارَكْفُورِيُّ-: الذِّلَّةَ وَالِافْتِقَارَ إِلَى اللهِ، إِرْشَادًا لِأُمَّتِهِ إِلَى اسْتِشْعَارِ التَّوَاضُعِ وَالِاحْتِرَازِ عَنِ الْكِبْرِ وَالنَّخْوَةِ.
وَاللهُ أَعْلَمُ.
Oleh karena itu, maka sifat Al-Maskanah dalam doa beliau ﷺ hanyalah bermakna —sebagaimana dikatakan oleh Al-Mubarakfuri—: Ketundukan dan perasaan butuh yang amat sangat kepada Allah; sebagai petunjuk bagi umatnya agar senantiasa merasakan kerendahan hati (tawadu) serta waspada terhadap sifat sombong dan angkuh.
Dan Allah lebih mengetahui (kebenarannya)."
[Oleh: Abu Farhan Fahrudin, S. Sy]
Sumber asli:
https://www.islamweb.net/ar/fatwa/103510/معنى-دعاء-النبي-اللهم-أحيني-مسكينا
