Mendeteksi lokasi anda...

Al-Quran & Tafsir Ringkas Kemenag

Bab 3: Lebih Utama Apabila Akikah Dinamai dengan Sebutan 'Nasikah

Kaum muslimin mungkin lebih banyak yang lebih mengenal untuk kambing yang disembelih sebagai wujud rasa syukur atas kelahiran anak dengan istilah akikah (aqiqah/aqiqoh). Rupanya ada nama atau istilah lain dari akikah ini dengan sebutan nasikah (نسيكة ). Penamaan nasikah ini sebagaimana diambil dari hadits yang akan disebutkan dan dijelaskan di bawah ini.



الْبَابُ الثَّالِثُ
الْأَفْضَلُ أَنْ تُسَمَّى الْعَقِيقَةُ نَسِيكَةً

عَنْ عَبْدِ اللّٰهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ عَنِ الْعَقِيقَةِ فَقَال :
«لَا أُحِبُّ الْعُقُوقَ» كَأَنَّهُ كَرِهَ الِاسْمَ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللّٰهِ: نَسْأَلُكَ عَنْ أَحَدِنَا يُولَدُ لَهُ فَقَالَ: «مَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَنْسُكَ عَنْ وَلَدِهِ فَلْيَفْعَلْ: عَلَى الْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ، وَعَلَى الْجَارِيَةِ شَاةٌ» أهـ (٣) .

قَالَ الْإِمَامُ الشَّوْكَانِيُّ فِي النَّيْلِ [٦ / ٢١٦ - ٢١٧] :
«قَوْلُهُ : "وَكَأَنَّهُ كَرِهَ الِاسْمَ" وَذٰلِكَ لِأَنَّ الْعَقِيقَةَ الَّتِي هِيَ الذَّبِيحَةُ، وَالْعُقُوقَ لِلْأُمَّهَاتِ مُشْتَقَّانِ مِنَ الْعَقِّ الَّذِي هُوَ الشَّقُّ وَالْقَطْعُ، فَقَوْلُهُ ﷺ : "لَا أُحِبُّ الْعُقُوقَ"، بَعْدَ سُؤَالِهِ عَنِ الْعَقِيقَةِ لِلْإِشَارَةِ إِلَىٰ كَرَاهَةِ اسْمِ الْعَقِيقَةِ لِمَا كَانَتْ هِيَ وَالْعُقُوقُ يَرْجِعَانِ إِلَىٰ أَصْلٍ وَاحِدٍ، وَلِهٰذَا قَالَ ﷺ : "مَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَنْسُكَ"، إِرْشَادًا مِنْهُ إِلَىٰ مَشْرُوعِيَّةِ تَحْوِيلِ الْعَقِيقَةِ إِلَى الْنَّسِيكَةِ، وَمَا وَقَعَ مِنْهُ ﷺ مِنْ قَوْلِهِ : "مَعَ الْغُلَامِ عَقِيقَةٌ" (٤) وَ "كُلُّ غُلَامٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ (وَ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ)" (٥)، فَمِنَ الْبَيَانِ لِلْمُخَاطَبِينَ بِمَا يَعْرِفُونَهُ، لِأَنَّ ذٰلِكَ اللَّفْظَ هُوَ الْمُتَعَارَفُ عِنْدَ الْعَرَبِ، وَيُمْكِنُ الْقَوْلُ بِأَنَّهُ ﷺ تَكَلَّمَ بِذٰلِكَ لِبَيَانِ الْجَوَازِ، وَهُوَ لَا يُنَافِي الْكَرَاهَةَ الَّتِي أَشْعَرَ بِهَا قَوْلُهُ : "لَا أُحِبُّ الْعُقُوقَ"» أ. هـ. .

قُلْتُ :
اَلظَّاهِرُ – لِي – أَنَّهُ ﷺ تَكَلَّمَ بِلَفْظِ الْعَقِيقَةِ لِبَيَانِ الْجَوَازِ، وَأَيْضًا لِبَيَانِ مَا يَعْرِفُهُ الْمُخَاطَبُونَ حِينَئِذٍ، وَالْأَمْرُ كَذٰلِكَ فِي زَمَانِنَا لَا يَكَادُ النَّاسُ يَعْرِفُونَ هٰذِهِ الشَّعِيرَةَ إِلَّا بِلَفْظِ : «الْعَقِيقَة»، فَلِذٰلِكَ مَشَيْنَا عَلَى التَّلَفُّظِ بِهَا فِي هٰذِهِ الرِّسَالَةِ، وَالْمُتَأَمِّلُ الْمُحَقِّقُ يَجْزِمُ بِأَنَّ التَّحَدُّثَ بِلَفْظِ : «الْعَقِيقَة» – وَالْحَالُ هٰكَذَا – هُوَ هَدْيُهُ ﷺ .

وَاللّٰهُ الْمُسْتَعَانُ وَعَلَيْهِ التُّكْلَانُ .

_________
(٣) إِسْنَادُهُ حَسَنٌ: أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ (٢٨٤٢) وَالنَّسَائِيُّ (٧ / ١٦٢ - ١٦٣) وَأَحْمَدُ (٣١٧٦ - ٢٢٨٦) وَعَبْدُ الرَّزَّاقِ (٤ / ٣٣٠) وَاللَّفْظُ لَهُ – وَغَيْرُهُمْ وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ (٤ / ٢٣٨)، وَقَدْ وَقَعَ عِنْدَ بَعْضِهِمْ هٰكَذَا: «إِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْعُقُوقَ» بَدَلَ «لَا أُحِبُّ الْعُقُوقَ» وَالظَّاهِرُ ثُبُوتُ اللَّفْظَيْنِ جَمِيعًا. هٰذَا، وَقَدْ وَرَدَ مُرْسَلًا عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ – أَيْضًا (٢٨٤٢)، وَلَا شَكَّ – عِنْدَ التَّحْقِيقِ – فِي شُذُوذِ هٰذَا الْوَجْهِ الْمُرْسَلِ وَقَدْ رَوَاهُ مَالِكٌ فِي الْمُوَطَّأِ (٢ / ٥٠٠) مِنْ طَرِيقٍ آخَرَ فِيهِ مَجْهُولَانِ!! وَانْظُرْ – إِنْ شِئْتَ – الصَّحِيحَةَ لِشَيْخِنَا الْعَلَّامَةِ الْأَلْبَانِيِّ (١٦٥٥) .
(٤) صَحِيحٌ: وَسَيَأْتِي مُخَرَّجًا مُحَقَّقًا بِرَقْمِ (٦)
(٥) صَحِيحٌ: وَسَيَأْتِي مُخَرَّجًا مُحَقَّقًا بِرَقْمِ (٧) وَلٰكِنْ بِلَفْظِ : «رَهِينَةٌ» بَدَلَ : «مُرْتَهَنٌ» .


Teks di atas diambil dan diberi harakat (syakl) dari teks aslinya berikut ini:


Adapun terjemahan bahasa Indonesianya adalah sebagai berikut ini:

Bab Ketiga: Lebih Utama Apabila Akikah Dinamai dengan Sebutan 'Nasikah'

Dari Abdullah bin 'Amr, ia berkata: Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang akikah, lalu beliau bersabda:

«لَا أُحِبُّ الْعُقُوقَ»

"Aku tidak menyukai al-'uquq (durhaka)." Seolah-olah beliau tidak menyukai nama tersebut (karena kesamaan akar katanya dengan kata durhaka).

Para sahabat lalu berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya yang kami tanyakan kepada Anda adalah tentang salah seorang dari kami yang dianugerahi kelahiran anak." Maka beliau bersabda: 

مَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَنْسُكَ عَنْ وَلَدِهِ فَلْيَفْعَلْ: عَلَى الْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ، وَعَلَى الْجَارِيَةِ شَاةٌ

"Barangsiapa di antara kalian yang ingin menyembelih (hewan) untuk anaknya, maka lakukanlah: untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang sepadan, dan untuk anak perempuan satu ekor kambing." Selesai kutipan. (3)

Imam Asy-Syaukani berkata dalam kitab Naylul Awthar [6/216-217]:
"Perkataan perawi: 'Seolah-olah beliau tidak menyukai nama tersebut,' hal itu karena kata 'Akikah' yang bermakna hewan sembelihan, dan kata 'Uquq' (durhaka) kepada ibu, keduanya berakar dari kata yang sama yaitu Al-'Aqq yang berarti membelah atau memotong. Maka sabda Nabi ﷺ: 'Aku tidak menyukai al-'uquq,' setelah beliau ditanya tentang akikah, adalah isyarat makruhnya nama akikah tersebut karena istilah 'Akikah' dan 'Uquq' kembali pada satu akar kata yang sama. Oleh karena itu, beliau ﷺ bersabda: 'Barangsiapa di antara kalian yang ingin menyembelih (yansuka)...' sebagai bimbingan dari beliau tentang disyariatkannya mengubah sebutan akikah menjadi nasikah. Adapun penggunaan kata akikah dalam sabda beliau yang lain, seperti: 'Bersama anak laki-laki ada akikah' (4) dan 'Setiap anak tergadai dengan akikahnya' (5), maka hal itu merupakan penjelasan bagi orang-orang yang diajak bicara dengan istilah yang mereka pahami, karena lafaz tersebut adalah yang populer di kalangan orang Arab. Bisa juga dikatakan bahwa beliau ﷺ mengucapkan kata tersebut untuk menjelaskan kebolehannya, dan hal itu tidaklah menafikan sifat makruh (makruh tanzih/kurang utama) yang diisyaratkan oleh sabda beliau: 'Aku tidak menyukai al-'uquq.'" Selesai kutipan.

Aku (penulis) berkata:
Yang tampak jelas bagiku, sesungguhnya beliau ﷺ berbicara dengan lafaz 'Akikah' untuk menjelaskan kebolehannya, dan juga untuk menerangkan hal yang memang telah dipahami oleh orang-orang yang diajak bicara pada masa itu. Kondisi yang sama juga terjadi di zaman kita sekarang, di mana masyarakat hampir tidak mengenal syiar ibadah ini kecuali dengan sebutan 'Akikah'. Oleh karena itu, kami tetap menggunakan lafaz ini dalam risalah (buku ringkas) ini. Seseorang yang jeli meneliti akan yakin bahwa berbicara dengan menggunakan lafaz 'Akikah' — dalam kondisi masyarakat seperti ini — merupakan bagian dari petunjuk beliau ﷺ.

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada-Nya kita berserah diri.
_______
(3) Sanadnya Hasan: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (2842), An-Nasa'i (7/162-163), Ahmad (3176 - 2286), dan 'Abdurrazzaq (4/330) — dan redaksi teks ini adalah miliknya (milik riwayat 'Abdurrazzaq) — serta diriwayatkan pula oleh selain mereka. Hadis ini dishahihkan oleh Al-Hakim (4/238). Pada sebagian riwayat lain, teksnya berbunyi:

«إِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْعُقُوقَ»  

"Sesungguhnya Allah tidak menyukai al-'uquq (kedurhakaan)" sebagai ganti dari:

«لَا أُحِبُّ الْعُقُوقَ»

"Aku tidak menyukai al-'uquq", dan yang tampak jelas (kuat) adalah kedua lafaz tersebut valid semuanya. Sebagai tambahan, hadis ini juga diriwayatkan secara mursal (terputus sanadnya) oleh Abu Dawud (2842). Namun, tidak diragukan lagi — setelah diteliti — bahwa jalur mursal ini adalah jalur yang syadz (janggal/lemah). Imam Malik juga meriwayatkannya dalam Al-Muwatta' (2/500) dari jalur lain, namun di dalamnya terdapat dua perawi yang majhul (tidak dikenal)!! Silakan lihat — jika Anda berkenan — kitab As-Shahihah karya guru kami, Al-'Allamah Al-Albani (no. 1655).
(4) Hadis Sahih: Dan akan datang pembahasan takhrij serta verifikasinya pada nomor (6).
(5) Hadis Sahih: Dan akan datang pembahasan takhrij serta verifikasinya pada nomor (7), tetapi menggunakan lafaz "rahiinah" sebagai ganti dari "murtahan".

Sumber:
Ahkamu Al-'Aqiqah, Abu Muhammad ‘Isham ibn Mar’i, Maktabah as-Shahabah, Jeddah, hlm. 10-12
📁 ARTIKEL